Blurb
Di tengah riuh ledakan dan auman tank di Gaza, Wajah di Palestina merangkai perjalanan panjang Goenawan Mohamad menelusuri tanah yang terus terkikis dari peta, tapi tak pernah hilang dari kata.
Dari Ramallah hingga Jerusalem, dari kamp pengungsi hingga lorong sejarah yang getir, buku ini memotret wajah-wajah Palestina—para penyair, pejuang, korban, dan pengkhianat—dengan mata seorang wartawan, telinga seorang pendengar, dan hati seorang penyair.
Dengan gaya yang jernih sekaligus menghunjam, Goenawan Mohamad menelisik propaganda, perang, pengusiran, dan puisi yang lahir di antara reruntuhan. Ia mengajak pembaca untuk melihat Palestina bukan sekadar sebagai konflik politik, melainkan kisah manusia—mereka yang terus memperjuangkan hak untuk pulang.
Tentang Penulis
Goenawan Mohamad, eseis, penyair dan novelis, menulis tentang Palestina sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Umumnya di Majalah TEMPO. Tugas jurnalistiknya memungkinkan ia mendatangi Kairo, Kuwait, Damaskus, Beiruth, Bagdad, Tel Aviv, Yerusalem, Nazareth, Ramallah, dan lain-lain.
Ia mewawancarai antara lain Presiden Sadat, Perdana Menteri Begin, Ariel Sharon, Penyair Palestina Mahmoud Darwish dan Penyair Suriah Adonis dan berhubungan dengan aktivis pro-Palestina di Timur Tengah, Amerika, dan Eropa.
Buku ini kumpulan tulisannya. Tak disusun secara kronologis—untuk menunjukkan bahwa penindasan terhadap Palestina seakan-akan tak bergerak, tak berubah. Juga kemarahan kepada sikap sewenang-wenang kolonialisme Israel.