Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh tidak bisa lagi melihat warna.
Dunia yang dulu penuh warna kehidupan kini berubah menjadi abu-abu. Pindah ke sekolah baru yang seharusnya menjadi awal yang baik, tetapi yang ia temukan justru tatapan merendahkan, kesepian, dan kenyataan bahwa menjadi berbeda sering kali berarti harus berjuang lebih keras.
Saat luka lama dan tekanan baru terus bertumpuk, Jihad hanya memiliki seni untuk menyuarakan hal-hal yang tak sanggup ia katakan. Namun ketika ia mulai berani bersuara, ia menyadari bahwa mempertahankan diri bisa mengubah segalanya.
Akankah keberanian itu cukup untuk membawanya kembali menemukan dirinya sendiri?