Bahasa lahir dari kesepakatan sosial. Kesepakatan itu membuat bahasa menjadi produktif. Di setiap kata yang terucapkan, terdapat kisah pergeseran makna, pertemuan antarbudaya, dan kecerdasan lokal yang sering terabaikan.
Kali ini, Ivan Lanin dan Harrits Rizqi mengajak kita menyingkap jejak dan asal-usul yang membentuk kosakata. Dalam Recehan Bahasa #2: Receh Tak Selalu Remeh, kita akan mendapati bagaimana mantan menggeser yang dianggap kurang baik; dengan santai, media massa membentuk kebiasaan berbahasa; atau, seorang kreator konten TikTok menciptakan galgah; bahkan dikejutkan oleh makna saudara anjing dan bajingan.
Recehan Bahasa #2: Receh Tak Selalu Remeh bukan hanya kumpulan kata atau recehan biasa. Selain menghibur, buku ini bagai peta yang menggambarkan interaksi manusia, sejarah, dan kreativitas yang membuat bahasa menjadi hidup dan kaya. Siapa tahu, akalsari kita menggunakannya, seperti politik burung unta yang lahir dari mitos yang keliru.