Judul: IDEOLOGI KAUM INTELEKTUAL
Subjudul: Suatu Wawasan Islam
Tak pelak lagi, Syari‘ati adalah seorang pemikir Muslim kontemporer terkemuka yang—meminjam terminologi Al-Qur’an—bisa disebut sebagai ‘ulil-albâb. Kali ini—masih dengan gaya yang memikat dan efektif—Syari‘ati berbicara tentang kebudayaan, peradaban, dan peran sekelompok orang, yang disebut sebagai “intelektual”, di tengah percaturannya.
Syari‘ati, sebagai Muslim, mulai dengan menegaskan peran agama sebagai ideologi—suatu keyakinan yang dipilih secara sadar untuk memberikan respons kepada problem dan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar alat untuk melegitimasikan status quo.
Sang ‘ulil-albâb lantas menunjuk orang-orang yang bukan ilmuwan, filsuf, dan teknolog, melainkan sanggup membentuk kebudayaan dan peradaban—mereka itulah “intelektual” sejati, atau rausyanfikr menurut istilahnya. Dia pun menekankan pentingnya kaum intelektual Muslim untuk menghubungkan diri dengan massa, menentang kaum reaksioner dan membangkitkan Islam sebagai agama yang menentang penindasan dan ketidakadilan.
Pada akhirnya, Syari‘ati tak ragu-ragu untuk menempatkan diri sebagai lakon dalam sejarah perlawanan umat tertindas—dalam tulisan, tetapi juga dalam tindakan. Dia syahid demi kesetiaan pada keyakinannya.
“Ali Syari‘ati adalah seorang rausyanfikr sejati dan pelaku pergerakan dalam membela kaum tertindas di negerinya. Dia telah mengilhami berbagai gerakan sejenis di tempat lain, termasuk di Indonesia.”
—Haidar Bagir, penulis dan dosen Pemikiran Islam