-
-
-
ANTARA SYARIAH DAN NEGARA: Islamisme, Populisme, dan Krisis Kewargaan dalam Demokrasi Indonesia
Rp 159.000
`Beli Sekarang
Format: 15,5 x 23,5 cm
Hal: 612
Harga: Rp159.000

Sinopsis

Dua puluh tahun setelah Reformasi, Indonesia masih terus mencari bentuk terbaik dari demokrasi yang berakar pada nilai-nilai Pancasila dan keberagaman. Namun, di tengah semangat kebebasan itu, muncul gelombang baru: Islamisme eksklusif dan politik identitas yang mengeklaim berbicara atas nama “moral” dan “kebenaran agama”.
Berdasarkan riset lapangan, wawancara, dan survei opini publik, buku ini mengungkap bagaimana organisasi-organisasi besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi pelopor reformasi Islam yang menegaskan kompatibilitas antara nilai-nilai Islam dan prinsip demokrasi modern. Dan bagaimana kelompok-kelompok seperti FPI, Laskar Jihad, dan HTI membentuk wacana publik, memengaruhi politik, dan mengubah cara banyak orang memahami apa artinya menjadi warga negara dan Muslim di Indonesia.
Buku ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar demokrasi Indonesia bukan sekadar soal pemilu atau lembaga negara, melainkan tentang bagaimana kita hidup bersama dalam perbedaan. Lewat buku ini, pembaca diajak memahami pertarungan ide, moral, dan identitas yang sedang membentuk wajah Indonesia hari ini—sebuah bangsa yang masih berjuang menyeimbangkan iman, kebebasan, dan kebangsaan.


“Buku ini akan menjadi referensi standar bagi setiap karya pada masa mendatang tentang Islam dan demokrasi di Indonesia atau tema-tema terkait di seluruh Dunia Muslim.”
—Vedi Hadiz, University of Melbourne, Australia

“Buku ini layak dipertimbangkan sebagai magnum opus Hefner—puncak penelitian panjangnya selama setengah abad tentang beragam pandangan dan praktik religius serta implikasi politiknya di kawasan perdesaan maupun perkotaan Indonesia.”
—Ahmet T. Kuru, San Diego University, USA. Penulis buku Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment: A Global and Historical Comparison

“Karya ini adalah sudut pandang yang dinanti-nanti terkait penjelasan kontemporer
tentang Islam dan politik, yang membawa pembacanya dalam suatu perjalanan
multidimensi ke banyak tempat.”
—Kathryn Robinson, The Australian National University