The Ocean Would Paint Me Blue

Karya Zoulfa Katouh

Abu-Abu

Sudut mataku menangkap gerakan mobil yang melaju kencang. Aku bergidik, seolah merasakan getaran trotoar dari balik mesin kasir.

Saat aku berkedip, dunia tanpa warna terbentang di hadapanku. Sudah lebih dari setahun aku hanya bisa melihat warna abu-abu; semua warna telah lenyap dari semestaku.

Pom bensin tempat Baba bekerja berada di tebing di jalur I-80, yang menghubungkan New Jersey dengan pantai-pantai di San Francisco. Jalan raya itu membentang lurus menuju Opus School of Art—kampus idamanku.

Perguruan tinggi itu didirikan oleh seorang pemenang Penghargaan Nobel di bidang Sastra, yang menggunakan pendapatannya untuk membuka dan mendanainya. Lulusan kampus itu telah meninggalkan jejak mereka di dunia melalui fotografi, lukisan, dan museum.

Kadang-kadang, dalam momen hening dan membosankan di tempat ini, aku mengeluarkan ponselku, membuka Google Maps, dan menelusuri jalur menuju tempat itu dengan ujung jariku, berusaha membayangkan jalanku ke sana. Namun aku tidak bisa benar-benar membayangkannya. Semuanya telah menjadi suram, samar, seperti coretan pensil.

Satu-satunya yang tetap adalah kebutuhan membara di dalam diriku untuk tetap berada di San Francisco. Walaupun aku tidak akan bisa melihat birunya lautan saat aku meraihnya, tidak apa-apa.

Setiap mobil yang berkelebat adalah janji. Harapan yang kupanjatkan di hadapan kue ulang tahun dengan lilin menyala. Aku memusatkan pikiranku pada harapan-harapanku. Dari yang terbesar hingga terkecil:

• Semoga Opus menerimaku.
• Semoga Amal dan suaminya mendapatkan pekerjaan di San Francisco dan pindah bersamaku.
• Semoga Baba melihatku. Maksudku, benar-benar melihatku.
• Semoga aku bisa menyelesaikan tahun terakhir SMA-ku dengan lancar.
• Semoga aku bisa kembali melihat warna.

Dahulu, hidupku adalah ledakan warna dalam nuansa kuning matahari, merah membara, hijau rimba, ungu galaksi. Buku sketsaku mencerminkannya, gambaran dari apa yang terlihat oleh mataku dan tidak terlihat oleh mata lain. Warna-warna menari. Berputar-putar mengelilingiku—semburatnya terpantul di kulitku. Bergulung-gulung bagaikan ombak dan menciprat bagaikan air terjun.

Warna adalah seluruh hidupku. Dan kini mereka telah pergi, hanya menyisakan abu-abu abadi.

Desir pintu geser memutus rangkaian harapanku, dan aku menegakkan badan. Sam, salah satu sopir truk yang kerap singgah di pom bensin ini, langsung berjalan menuju kulkas untuk mengambil empat kaleng Red Bulls sebelum menghampiri kasir.

“Malam.”

Aku memindai kaleng Red Bulls. “Malam panjang?”

Dia mengangguk, kedua alis tebalnya bertaut. Ada berbagai nuansa abu-abu dalam sosoknya, tetapi janggut dan kumisnya tampak lebih terang daripada rambutnya. Aku tidak ingat lagi apakah rambutnya cokelat atau merah. Apakah matanya cokelat atau biru.

Aku mencubit pahaku untuk mengembalikan perhatianku.

“Ada pengiriman ke Pennsylvania,” dia berbicara dengan suara menggeram, lalu memicingkan mata ke arahku. “Memangnya kau besok tidak sekolah?”

“Sekolah masih libur sampai dua minggu ke depan.” Musim kasir berdenting. “Totalnya sepuluh dolar sembilan puluh delapan sen.”

Dia mengangguk-angguk, lalu mengeluarkan dompet dan mengulurkan beberapa lembar uang kertas kumal. Aku memperhatikannya melangkah ke luar, memanjat masuk ke truknya, lalu menjalankannya keluar dari pom bensin, bergabung dengan kendaraan-kendaraan lainnya yang berkelebat di jalan raya.

Suatu hari nanti, batinku berucap, aku akan ada di sana.

Aku menggosok mataku. Aku sudah seharian di sini, membantu Baba di pom bensin. Walaupun alasanku sesungguhnya adalah mengamati jalur I-80. Ini menenangkan pikiranku, meredam kebisingan hampa di jiwaku. Ini satu-satunya harapan yang kubiarkan tetap hidup.

Lagi pula, jika aku berdiam di rumah, aku hanya akan bergoleran di ranjang seharian. Itulah yang kulakukan selama beberapa minggu pertama liburan musim panas, hingga sahabatku, Alexis, menarikku keluar dari benteng selimutku.

Baba berjalan keluar dari gudang, mengusapkan tangan ke jaketnya.

“Yalla?” ujarnya dengan suara monoton yang dipakainya sejak setahun silam. Suara yang mengungkapkan bahwa dia belum pulih, tidak ingin pulih. Suara yang mengungkapkan bahwa dia telah berbulan-bulan berada di mode bertahan. Rambutnya abu-abu pucat, dan aku bertanya-tanya bagaimana warna itu bisa muncul begitu saja.

Membantu di pom bensin dahulu menyenangkan. Baba membantu membangun khayalan kami hingga menjadi dunia rumit yang membentang sejauh mata memandang. Dia berasal dari kota yang sama dengan Mama. Keluarganya lebih praktis. Namun Mama hadir dari keluarga yang jauh lebih magis. Itu menjadi salah satu alasan Baba jatuh cinta kepadanya. Cara Mama memperluas kehidupan Baba menjadi lebih dari sekadar gerakan monoton. Mama meraih tangan Baba dan menunjukkan dunianya.

Imajinasi Baba mengambang tetapi kokoh, membuatku dan Amal betah menghabiskan berhari-hari melawan naga laut dan menyelamatkan berkantong-kantong keripik dari tangga tinggi di sini.

Kita ini pemberhentian terakhir sebelum mereka melanjutkan perjalanan, Baba kerap mengatakan. Tugas kita adalah mempermudah mereka mencapai tempat yang sedang mereka tuju, dan karena itulah kita bisa dibilang ikut mengantar mereka.

Dalam momen-momen seperti ini, kata-kata memancarkan warna-warna ke duniaku. Warna-warna itu bergerak, tidak diam saja. Menari-nari bagaikan gelombang di laut, berkilauan bagaikan berlian, dan menjadi hidup. Cat merah retak di pom bensin menjadi lava, menggelegak dan berayun bersama angin. Kuning kusam di tembok menjadi secemerlang bintang, tumpah ke lantai. Aku bisa mengecap warna-warna itu.

Saat aku bercerita tentang warna-warna yang membisikkan kisah mereka kepadaku, bagaimana mereka berdetak dan bernapas, aku khawatir orangtuaku tidak akan percaya. Aku takut mereka menganggap ini sebagai buah imajinasiku yang berlebihan. Namun Mama mengatakan bahwa berkat itu tergugah di darahku.

Ada banyak cerita yang beredar di keluargaku. Berkat yang mengaburkan batas antara dunia nyata dan magis. Diturunkan dari generasi ke generasi oleh para wanita di keluargaku bagaikan bakat.

Rumah nenek buyutku di Suriah adalah satu-satunya tempat bunga matahari mekar sepanjang tahun. Diterpa hujan es dan salju, kuntum-kuntum bunga itu terulur ke arah matahari, hanya karena dia yang menanamnya. Putrinya, nenekku, bisa menangkap awan dengan tangan kosong dan memerah kelembapannya untuk mendapatkan air minum tersegar dan terdingin. Desa mereka tidak pernah dilanda kekeringan. Adik nenekku bisa berbicara dengan pepohonan. Mereka bercerita kepadanya tentang peperangan yang tidak pernah tercatat dalam sejarah dan kisah-kisah cinta yang tidak pernah terdengar. Dia tahu tentang nasib Arwad dan Tartus, dan pohon lemon yang akan menghasilkan panenan melimpah terakhir sebelum mati.

Mama bisa berbicara pada apa pun yang hidup di laut. Dia lebih dahulu bisa berenang sebelum bisa berjalan. Ubur-ubur adalah teman masa kecilnya, dan Laut Mediterania adalah tangan kanannya. Dan Baba memercayai setiap ucapannya, meskipun dia tidak pernah melihatnya berbicara pada ubur-ubur—kata Mama mereka pemalu.

Dan aku bisa melihat warna-warna. Warna-warna yang menyusun manusia, bagaimana watak seseorang memengaruhi nuansanya. Aku bisa merasakan kesedihan di warna abu-abu yang menyelubungi seorang asing. Mengecap kegembiraan di hijau cemerlang dedaunan sebatang pohon. Mendengar lagu di kelopak-kelopak kuning bunga daffodil. Janji-janji yang terlupakan di merah jambu kusam sebuah kotak perhiasan. Setiap nuansa warna dari setiap benda menari-nari dan berpendar bagaikan tangga nada, saling bertumpukan. Aku bisa melihat inti manusia, warna-warna yang menyusun jiwa mereka, baik yang suram ataupun cerah.

Aku dan Amal tumbuh bersama cerita-cerita dari desa kami. Tentang ladang-ladang luas dan cakrawala yang membentang tanpa batas. Kami berusaha membayangkannya di apartemen kecil berkamar dua kami di Queens. Buah persik yang sangat manis sehingga rasanya masih tersisa di mulut hingga berjam-jam kemudian. Matahari yang sangat hangat pada musim gugur sehingga kami hanya perlu memakai jaket tipis. Gunung-gunung yang bergemuruh, berpadu dengan panggilan azan dari masjid-masjid berumur ratusan tahun.

Dahulu cerita-cerita itulah yang membentukku, menjauhkanku dari kepedihan. Sekarang justru cerita-cerita itulah yang mendatangkan kepedihan. Sekarang warna-warna telah sirna, terkelupas begitu saja dari pandanganku. Yang terlihat olehku hanya berbagai nuansa abu-abu. Ini terjadi setelah Mama pergi lebih dari setahun silam. Kupikir aku masih terjebak dalam mimpi buruk. Aku terlalu kalut untuk mengatakan sesuatu, hanya bisa berdoa dan berharap warna-warna itu kembali kepadaku. Seminggu kemudian, aku baru berani memberi tahu Baba.

Perasaan bersalah menggerogotiku saat Baba membawaku ke dokter spesialis mata karena kami harus membayar sangat mahal. Terlebih ketika dokter itu tidak menemukan masalah apa pun di mataku, dan menyatakan bahwa semua itu mungkin hanya ada di dalam pikiranku. Kurasa dia tidak memercayaiku.

Jadi, inilah dunia yang kulihat. Baba memasuki mobil selagi aku menutup pom bensin. Akhir-akhir ini dia lebih banyak menghabiskan waktu di sini daripada di rumah. Aku memasang headphone dan menekan play di daftar laguku sebelum berlari-lari kecil ke mobil. Begitu aku duduk di pintu penumpang, Baba memundurkan mobil dan meluncur ke jalan, membawa kami kembali ke perut New York City.

Dahulu aku mencintai kotaku ini. Aku lahir dan dibesarkan di sini. Hanya tempat ini yang kukenal. Lingkungan kami menjanjikan impian Amerika. Beraneka ragam budaya dari berbagai bagian dunia berpadu di sini dalam upaya mencari peluang di negara merdeka ini. Walaupun semua orang bisa menggunakannya, bahasa Inggris bukan bahasa utama di sana. Bahasa Arab, Portugis, Cina, dan Romania mengalun bagaikan simfoni. Dan aku menyukainya. Aku senang mengenali derak masing-masing kepingan batu trotoar di luar gedung apartemenku. Aku akrab dengan kucing oranye liar di gang, yang melahirkan bayi-bayi menggemaskan setiap tahun selama lima tahun terakhir. Aku ingin mengadopsi salah satunya, tetapi Mama melarangku.

Aku menaikkan volume headphone-ku hingga melewati batas yang disarankan. Aku tidak mendengarkan liriknya. Aku terhanyut di dalam pikiranku, dan di telingaku, kata-kata itu menjadi sekadar gumaman di antara ketukan drum dan petikan gitar. Kami terjebak kemacetan malam selama satu jam. Jika lalu lintas lancar, perjalanan ini hanya memakan waktu sepuluh menit.

Kami sama sekali tidak berbicara sepanjang perjalanan itu, dan suara yang ada hanyalah getaran dari musik yang kudengarkan. Akhirnya, akhirnya, kami tiba di rumah. Aku keluar, membanting pintu, dan buru-buru menaiki tangga di apartemen enam lantai kami. Aku bahkan tidak menengok untuk melihat apakah Baba mengikutiku. Kami telah menjadi pulau yang masing-masing berdiri sendiri.

Ini adalah rumah orangtuaku sejak mereka pindah ke Amerika Serikat. Gedung-gedung di sini saling berhimpitan bagaikan anak-anak ketakutan, tanpa adanya ruang untuk bernapas. Gedungku bahkan terlihat nyaris ambruk, lututnya goyah, tetapi aku telah lama menyadari bahwa gedung ini masih akan tetap berdiri bahkan hingga bertahun-tahun setelah aku tiada. Ilusi keringkihan tidak berlanjut ke dalam gedung. Salon yang dikelola oleh tetangga kami, Mrs. Gomez beserta anak-anak perempuannya, masih buka, dan obrolan seru dengan bahasa Portugis mengalir keluar dari jendelanya yang terbuka. Hatiku perih, dan aku menepis kenangan yang mengancam untuk muncul di depan mataku. Aku tidak heran saat mendapati lift tidak berfungsi. Aku menaiki lima ruas tangga hingga tiba di depan pintu unit kami. Aku melangkah masuk, berdoa agar mendengar suaranya. Doa, harapan yang meledak di dalam hatiku setiap kali aku pulang. Doa agar kejadian tahun lalu hanya mimpi buruk. Namun tidak. Tentu saja tidak.

Kuning Pucat

Apartemen kami bagaikan Suriah mini di tengah Queens. Dua kamar tidur dengan satu dapur kecil yang tidak pernah menghentikan Mama dari memasak hidangan-hidangan terlezat. Sebuah lemari kayu berdiri di lorong, melindungi barang-barang pecah belah kristal rapuh di dalamnya. Kami tidak pernah memakainya, bahkan untuk menjamu tamu. Hingga sekarang pun kami tidak pernah menyentuhnya. Lemari itu diselimuti taplak bersulam yang didapatkan Mama sebagai hadiah pernikahan. Mama sangat menyukainya; dia membeli beberapa taplak serupa dari Souq Al-Hamidiye saat dia berkunjung ke Suriah pada musim panas bertahun-tahun silam. Dia kemudian memasang taplak-taplak baru itu di sofa dan TV. Dan juga di meja kayu berukiran arabesque di ruang duduk.

Karya-karya Mama menghiasi dinding, potretku dan Amal, ubur-ubur di Mediterania, dan deretan rumah berdinding batu di Arwad. Ada pula foto-fotoku dan Amal sejak kami bayi hingga pernikahan Amal. Foto keluarga kami tergantung di tengah. Mama dan Baba berdiri di belakang sofa si fotografer, sementara aku dan Amal duduk di depan mereka. Saat foto itu diambil aku berumur dua belas tahun, dan Amal sembilan belas tahun.

Aku membenci foto itu. Jika aku mengamatinya dari dekat, aku bisa melihat mataku yang merah dan hidungku yang berkerut menahan kesal. Pita merah jambu besar di rambutku menjadi pengalih perhatian dari semua itu. Mama menyuruhku memakai gaun polka dot hitam dan putih dengan stoking putih. Amal menyunggingkan senyum palsu di wajahnya. Dia mengenakan rok pensil panjang hitam dan kemeja putih, hijab dua lapisnya diselipkan ke bawah kemeja agar hiasan di kerahnya terlihat. Mama mengenakan manto abu-abu kebanggaannya, dan Baba mengenakan setelan yang mungkin dibelinya dua puluh tahun sebelum foto itu diambil.

Aku sudah tidak mengingat apa yang membuatku marah hari itu. Namun aku masih ingat bahwa aku tidak mau memakai pita itu. Ikatannya terlalu kencang di kepalaku, dan aku ingin membukanya.

Foto keluarga itu semestinya menandai awal kehidupan baru kami. Kehidupan tanpa kanker yang mencekeram ketakutan dan harapan kami. Mama telah empat bulan berada di fase remisi. Paru-parunya telah cukup kuat untuk menghirup udara.

Namun aku anak dua belas tahun, dan aku tidak peduli gara-gara pita merah jambu itu terpasang terlalu kencang di kepalaku.

Kini apartemen ini seolah-olah membeku dalam waktu. Kami tidak mengubah apa pun. Kami tidak bisa. Jika kami melakukan itu, arwah Mama akan pergi. Kelebatnya yang tersisa di apartemen ini akan lenyap. Mungkin jika kami membiarkan segala sesuatu di sini sebagaimana adanya, berkat yang dimilikinya akan tetap hidup bahkan sesudah dia tiada, dan kami akan melihatnya di apartemen ini. Mungkin dia akan kembali.

Aku melepas sepatuku dan meletakkannya di rak sebelum berjalan ke kamarku. Pintu depan terbuka sesaat setelah aku menutup pintu kamarku. Kamarku adalah ledakan warna turkuois, emas, hijau rimba, dan merah marun yang tidak bisa kulihat. Saat Amal akhirnya pindah dua tahun silam, kamar ini menjadi sepenuhnya milikku.

Pada malam pertama, aku mengeluarkan kuas-kuasku, berdiri di kursiku, dan mulai mengecat langit-langit. Aku berhasil menyelesaikannya dalam seminggu, dan aku harus membuka jendela agar udara bisa masuk, tetapi semua itu sepadan dengan hasilnya. Ombak hijau yang pecah di hamparan pasir emas. Pantai di San Francisco. Lalu, di tembok di sekelilingku, aku menggambar pohon-pohon redwood. Batang-batang cokelat kemerahan dan daun-daun hijau subur. Untuk saat ini, inilah kenyataanku hingga aku benar-benar bisa melihatnya sendiri. Di kamar ini, aku bisa bernapas.

Aku mengganti bajuku dengan piyama yang dibelikan Mama di Suriah, lalu menjatuhkan diri ke ranjangku. Rumbai-rumbai di sampingnya telah gundul, dan tulisan “Hari ini dan besok sinar matahari” telah pudar. Mama, Amal, dan aku kerap menertawakan kalimat-kalimat janggal di baju-baju yang dijual di Suriah, berusaha menebak niat awal penulisannya.

Aku berbaring selama beberapa waktu, menatap langit-langit, hingga ponselku berdenting, dan aku melirik pesan yang muncul.

Lexi: bagaimana di pom bensin?

Lexi: mau menginap di sini akhir pekan nanti?

Lexi: kau perlu melakukan sesuatu selain diam saja di kamarmu dan bekerja

Lexi: hanya itu yang kaulakukan selama musim panas. ini tidak sehat

Lexi: tentu saja kau masih boleh bersedih

Lexi: tapi biarkan aku menemanimu agar kau tidak sendirian

Aku menggigit bibirku.

Lexi: ada perkembangan baru soal matamu?

Alexis menanyakan itu setiap hari. Dia orang pertama yang kuberi tahu ketika rasa syokku telah pudar menjadi kenyataan muram. Aku memberi tahu dia sebelu mengabar Amal. Walaupun Alexis sudah tidak tinggal di gedung apartemen ini, dia kerap berkunjung saat kami lebih kecil. Ibunya masih bekerja, dan Mama menawarkan diri untuk menjaga Alexis di sini setiap siang agar dia tidak sendirian di apartemennya. Karena itulah Alexis sangat akrab dengan cerita-cerita Mama dan memercayainya sepenuh hati.

Sebelum aku bisa memutuskan bagaimana aku akan menanggapi pesan dari Alexis, ketukan di pintu mengejutkanku.

“Masuk?” jawabku setelah tiga detik.

Baba membuka pintu, dan aku duduk. Sosoknya tidak lagi terasa memenuhi tempat ini. Entah bagaimana, dia seolah-olah menyusut selama setahun terakhir.

“Makan malam sudah siap,” Baba berbicara dalam bahasa Arab, dan suaranya datar. Suaranya tidak mencari celah-celah untuk mendarat, tetapi menggantung canggung di dalam apartemen ini. Aku bertanya-tanya apakah sisa-sisa Mama di tempat ini bergidik setiap kali dia mendengar kami berbicara, dan mungkin karena itulah suara kami terdengar asing di tempat yang dahulu pernah menjadi rumah kami.

“Makan malam?” aku mengulang, heran.

Baba sudah sangat lama tidak membuat makan malam. Begitu pula aku.

“Ya.” Dia tiba-tiba tampak letih. Seakan-akan beberapa patah kata yang baru saja diucapkannya telah merenggut seluruh tenaganya.

Dia melangkah ke dapur, dan aku mengikutinya, penasaran.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali, memicingkan mata, tidak percaya melihat apa yang tersaji di meja makan. Kelihatannya panci itu berisi shakriyeh panas, masakan berbasis yogurt dengan potongan-potongan daging, yang disajikan bersama bulgur. Baba bahkan telah menyiapkan dua buah piring. Kami duduk, dan aku melihat irisan bawang bombay dan roti pita yang telah dibelah menjadi dua bagian tertata rapi di sebuah piring. Dia sudah berusaha.

Sesuatu telah terjadi. Dadaku sesak, mungkin karena aku hendak mengalami serangan kecemasan. Ini pasti berhubungan dengan Mama dan kepergiannya yang begitu mendadak. Pasti.

Baba melihat kepanikan di wajahku dan buru-buru menggeleng. “Jangan, jangan. Ini bukan hal buruk. Aku ingin berbicara soal kamu.”

Aku mengerjapkan mata, tetapi otot-ototku tidak kunjung mengendur.

Baba menarik napas dalam. “Tahun ini ….” Dia memejamkan mata, memantapkan diri. Aku tidak tahu apakah akan tiba waktu ketika kata-kata tidak lagi menyebabkan sekujur tubuh hingga tulang-tulang kami letih. Dia kembali mencoba. “Setahun belakangan tidak mudah bagi kita. Dan aku … aku tidak hadir di sini. Tapi setiap kali aku menatapmu, kamu seakan-akan semakin memudar. Aku berpikir, mungkin awal baru bagus untukmu.”

Aku menatapnya.

“Aku sudah berbicara dengan orangtua Alexis tentang sekolah tempatnya belajar,” Baba berbicara dengan bahasa Inggris berlogat kental, seolah-olah dia berusaha mengubahnya menjadi bahasa Arab. “Menurut mereka, sekolah itu benar-benar bagus. Kau akan mendapatkan pendidikan yang sangat unggul di sana. Dan kesempatan yang lebih besar untuk diterima di universitas di sini. Di NYU.”

Otakku terasa keruh. “Baba, biaya sekolah di Braxton Academy tiga puluh tiga ribu dolar setahun.”

Aku mengingat itu karena aku pernah mencari tahu saat Alexis bercerita tentang sekolahnya. Harapanku serta-merta hancur saat aku melihat biayanya.

Baba mengibaskan tangan. “Aku punya tabungan.”

“Aku akan tetap belajar di sekolah umum. Jangan sampai Baba menghabiskan tiga puluh lima ribu hanya untukku.”

“Ini keputusanku,” Baba menegaskan dalam bahasa Arab.

“Jadi aku tidak boleh memberi pertimbangan, walaupun aku yang akan menjalani?” aku menukas, seketika itu juga menyesali nadaku. “Maaf.”

Baba menggeleng. “Tidak apa-apa.” Dia memijat pangkal hidungnya. “Kau membutuhkan dorongan dalam kehidupanmu, kan? Terlebih karena … karena ibumu ….” Dagunya bergetar, dan aku mengalihkan pandangan.

Aku tidak tahan melihat Baba menangis. Ini anomali. Goresan di kain realitasku. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku melihatnya menangis selama setahun ini, dan karena itulah aku menahan air mataku sendiri. Air mataku hanya mengalir di tempat tertutup, tercurah ke bantalku, menyirami pohon-pohon di dinding kamarku. Mungkin seluruh tangisku itulah yang telah melunturkan warna-warna.

Baba berdeham. “Karena ibumu … sudah pergi, dan kakakmu sudah menikah, ada uang yang bisa digunakan.”

Kata-kata itu meluncur bagaikan tamparan keras di pipiku, dan aku merasakan sengatannya. Derajat Mama telah turun menjadi sekadar materi. Dia sudah tidak membutuhkan perawatan untuk kankernya, tetapi masih ada uang yang disimpan jika sewaktu-waktu penyakitnya kembali. Kini kami tidak akan menggunakannya.

“Tabungan kanker Mama hanya sekitar sepuluh ribu dolar,” kataku.

“Ini bukan masalahmu.” Secercah kehidupan terpancar dari mata Baba. “Kamu anakku. Jangan pernah merisaukan soal uang. Oke?”

“Tapi ini tetap bukan keputusanku?” ujarku datar.

“Ya.” Baba mengembusas napas. “Kupikir kamu akan senang. Kamu akan bisa sekolah bersama Alexis.”

Kami akan berada di sekolah yang sama untuk pertama kalinya sejak sekolah dasar. Braxton Academy.

Aku tidak tahu banyak tentang sekolah itu selain fakta bahwa murid-muridnya berasal dari keluarga kaya. Dari Instagram Alexis, semua wajah tampak putih dengan berbagai nuansanya, dalam balutan Burberry dan Chanel. Itu jika mereka tidak mengenakan seragam celana panjang atau rok abu-abu, kemeja putih, dan jas abu-abu senada.

Seragam mereka tidak kedodoran atau dibuat dengan asal-asalan, tetapi dijahit sesuai dengan ukuran masing-masing siswa. Sekolah macam itulah Braxton Academy.

“Mereka juga punya kelas seni. Aku sudah mencari tahu,” kata Baba, dan aku membuka tutup panci berisi shakriyeh, tidak menghiraukannya.

Aromanya berbeda dari yang biasa dimasak oleh Mama. Namun mendekati. Ini jenis duka yang lain, melihat bagian-bagian dirinya yang tidak sepenuhnya ada—bagaikan memandang dari balik selubung kabut.

Setelah merasa puas dengan pembicaraan kami, Baba kembali ke cangkangnya. Dan aku menyadari bahwa ini adalah percakapan terpanjangku dengannya selama setahun terakhir.

SELESAI

Spill Bab Test