Di tengah kabut Istanbul 1591, seorang miniaturis ditemukan tewas di dalam sumur. Kepalanya hancur. Di balik kematian ini, tersembunyi pertanyaan yang lebih berbahaya: Bolehkah seniman melawan tradisi demi menciptakan sesuatu yang belum pernah ada?
Diterbitkan oleh
Mizan Pustaka
Fiksi Sejarah, Misteri
1998 (Asli), Mizan
Istanbul, 1591
Bayangkan Anda hidup di masa ketika melukis adalah bagian dari pergulatan iman. Ketika setiap sapuan kuas adalah pilihan: tetap aman dalam tradisi, atau memberontak untuk sesuatu yang belum pernah ada. Hitam, seorang mantan murid bengkel minuaturis kerajaan, meninggalkan Istanbul 12 tahun lalu karena cinta yang mustahil. Kini ia kembali—dipanggil oleh pamannya untuk menyelesaikan sebuah buku rahasia. Buku yang berbahaya. Buku yang bisa membunuh siapa saja yang terlibat.
"Halaman demi halaman, saya semakin tenggelam. Ini bukan novel yang buru-buru dituntaskan. Ini novel yang membuat Anda berhenti, merenungkan satu kalimat, lalu membacanya lagi. Dan lagi."
— Pembaca yang Tersentuh
"Setelah selesai membaca, saya keluar rumah dan melihat pohon di taman. Untuk pertama kalinya, saya mengerti apa artinya melihat dengan mata seorang seniman. Pamuk mengubah cara saya memandang dunia."
— Pencinta Sastra
Ada buku yang menghibur di akhir pekan. Ada buku yang mengubah cara Anda melihat warna merah, cara Anda memandang seni, cara Anda memahami cinta. Ini adalah yang kedua. Dan Anda tidak akan pernah lupa.